Banner 1

PROGRAM LATIHAN MONDOK

Pendidikan menjadi aspek krusial mencetak generasi penerus bangsa. Di tengah terpaan dunia luar melalui teknologi, pendidikan berlapis menjadi opsi positif. Maksudnya para orang tua membekali anak pendidikan formal sekaligus nyantri mondok atau belajar di pondok pesantren. Mondok berasal dari kata pondok yang dari kata benda menjadi kata kerja dengan arti ‘tinggal di pondok’. Mondok artinya tinggal di asrama atau bilik yang disediakan oleh pesantren, yang di dalamnya harus mengikuti kegiatan belajar di madrasah dan juga kegiatan di luar jam sekolah, yakni kegiatan pesantren. Kegiatan-kegiatan itulah yang kelak akan menjadi suatu masa yang dirindukan.
Di pondok, pelajaran kemandirian dan keterampilan berjalan secara alami, seperti halnya menjahit, merajut, memasak. Begitu pun dalam keterampilan berkomunikasi dan berinteraksi, seperti kegiatan hadrah, sholawatan, teater, pidato dan pementasan-pementasan lain yang merupakan bagian dari kegiatan. Kemandirian santri juga terbentuk saat mereka harus melayani diri sendiri dan orang lain, semisal masak. Masak merupakan salah satu kegiatan santri yang paling seru. Biasanya, terdapat jadwal pembagian piket masak, mereka akan beramai-ramai memasak dan tidak luput dengan guyonon-guyonan santri yang khas, atau biasanya mereka saling mengolok. Keseruan di pondok tidak hanya ketika masak, karena saat makan pun menjadi suatu kenikmatan tersendiri bagi setiap individunya. Mereka berkumpul menjadi beberapa bagian, dan mengerumuni satu talam. Setiap kelompok, biasanya terdiri atas 5-6 orang. Kebanyakan orang tua mengharapkan anak-anaknya dapat menjalani pendidikan sebagai santri karna ini menjadi kebanggaan bagi kebanyakan orang tua. Terlebih jika sang anak berhasil menjadi santri dari pesantren ternama dan menjadi orang yang berhasil dibidang ilmu umum dan agamnya. Meski banyak harapan orang tua seperti itu, nyatanya tak semua anak mampu mewujudkannya. Banyak orang tua yang masih memaksakan kehendak anak dalam melanjutkan pendidikan dengan mondok di pesantren. Dari problem itulah Madrasah Diniyah Salafiyah yang dinaungi oleh Yayasan Pendidikan Islam salafiyah yang berdomisili di Desa Krasak Rt 06 Rw. 01 Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara mengadakan trobosan program yang mana program ini mempersiapkan anak-anaknya untuk melanjutkan mondok dipesantren setelah lulus atau keluar dari madrasah dengan mengadakan program “LATIHAN MONDOK” yang mana program ini di siapkan untuk anak-anak merasakan seperti mondok yang di asramakan di gedung madrasah selama 1 - 2 minggu ketika liburan sekolah pagi. Kegiatan ini hampir sama dengan kegiatan di presantren mulai jam 03.00 peserta di bangunkan untuk mengikuti sholat tahajud, dilanjutkan tadarus sampai subuh dan dilanjut dengan sholat subuh berjamaah dan qultum subuh. Jam 06.00 dilanjutkan senam dan olah raga pagi yang di bimbing oleh para ustadz-ustadz kemudian jam 07.00 dilanjutkan cuci mandi dan sarapan pagi yang di siapkan oleh para ustadzah. Jam 09.00 pagi dilanjutkan kegiatan sholat Dhuha berjamaah dengan pembelajaran kajian ilmu-ilmu islami sampai jam 11.00.
Sholat Gerhana Matahari
Acara Penutupan dan Serah terima santri kepada kepada wali santri kembali
Setoran Hafalan Jus Amma kepada Ustdzah Hj. Jauharotul Insiyah
Suasana antri dalam mengambil makanan yang mengajarkan ketertiban dan kesabaran
Khutbah gerhana oleh ustadz Samrotul Huda Al Hafidz
Di siang hari jam 12.00 dilakukan sholat dzuhur berjamaah dilanjutkan kajian ilmu al-quran dan makan siang sampai jam 14.00 dilanjutkan istirahat siang sampai jam 15.15 sholat berjamaah asar dan mandi. Jam 17.45 dilanjutkan sholat magrib berjamaah dilanjut tadarus al-qur’an sampai sholat isya’, makan malam dan setelah itu dilanjutkan kajian ilmu-ilmu islami oleh para ustadz ustadazh madrasah sampai jam 21.00 malam dilanjutkan istirahat. Dan kegiatan itu berulang-ulang setiap hari sampai hari terakhir. Dan pada acara terakhir anak-anak juga diadakan pelepasan dan penyerahan kembali oleh orang tua dari ketua yayasan dan kepala sekolah.
Alhamdulillah program ini sangat mengundang antusianisme masyarakat terlebih anak-anak untuk mengikuti kegiatan ini. Dengan dibuktikannya banyak orang tua yang mendaftarkan anak-anaknya untuk mengikuti program tersebut. dan semoga program ini bisa berjalan ditahun tahun berikutnya dan menjadikan anak-anak ini untuk siap ketika melanjutkan untuk pendidikan dipondok pesantren.